PERGANTIAN
TAHUN BARU ISLAM 1437 H, PERUBAHAN WAKTU
MOMENTUM MENAKLUKKAN ATAU DITAKLUKKAN?
Oleh: Afrina Letti, S.PdI,MA
Guru PAI SMA Negeri Unggul
Dharmasraya
Waktu merupakan sesuatu yang akan
dilalui oleh semua orang dengan kuantitas yang sama, 24 jam sehari, namun tidak
semua orang bisa memanfaatkan dan menjadikan waktunya berkualitas. Akan terjadi
perbedaan orientasi dalam membaca waktu antara manusia yang satu dengan yang
lainnya. Dalam qs. Al-‘Ashr:1-3 Allah swt berfirman, yang artinya “1)Demi masa, 2) Sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian, 3)kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Dalam ayat tersebut Allah swt
bersumpah demi masa (waktu), hal ini mengindikasikan betapa pentingnya waktu
bagi manusia supaya tidak termsuk dalam golongan orang yang merugi.
Setiap satuan waktu memiliki
ibrahnya sendiri, tergantung seperti apa kita memaknainya. Para ulama
mengatakan bahwa “al waqtu huwa al hayah”
(waktu adalah kehidupan). Mereka memaknainya sebagai sarana untuk mengabdi
pada Allah swt. Imam Syafi’i seorang ulama besar Islam yang baru berusia 50
tahun ketika wafatnya, namun telah meninggalkan ilmu ushul fiqh yang membantu
semua generasi memahami kitab dan sunnah.
Beliau merupakan salah seorang hamba Allah yang memperoleh keberkahan
waktu dalam hidupnya. Beliau mengatakan “jika engkau tidak menyibukkan dirimu
dengan kebenaran, maka engkau akan disibukkan dengan kebathilan”. Menyikapi hal
ini dimanakah posisi diri? Termasuk orang yang sibuk dengan kebenaran ataukah
kebathilan?
Setiap satuan waktu memiliki
momentumnya sendiri, tergantung seperti apa kita memanfaatkannya. Sekarang
sudah diakhir 1436 H dan sebentar lagi waktu akan berganti menjadi 1437 H. Jika
dibawa merenung sejenak, ternyata setiap makhluk Allah diberikan waktu yang
sama dan terangkai indah dalam detik, menit, jam yang berubah menjadi kumpulan
hari-hari, ketika berganti hari berganti menjadi minggu, minggu menjadi bulan
dan bulan menjadi tahun yang terus berlalu, maka semakin berkurang pula jatah
hidup di dunia ini.
Mengingat saat ini sebentar lagi waktunya
pergantian tahun baru Islam, ini berarti menapak tilasi awal perpindahan/ Hijrahnya
Rasulullah dan kaum muslimin dari Mekah ke Yastrib (Madinah) yag merupakan momentum
awal dari perkembangan dakwah Rasulullah saw. Peristiwa hijrah telah mengakhiri periode dakwah di Mekah dan mengawali
periode Madinah sebagai titik
balik kehidupan Rasulullah saw. Perkembangan Islam yang sangat terbatas di Mekkah menjadi
luar biasa ketika Rasulullah hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama
Yastrib.
Peristiwa hijrah berawal dari
datangnya beberapa orang Yastrib (Madinah) pada tahun 620 M yang kebanyakan
berasal dari suku Khazraj, menemui nabi Muhammad pada festival Ukaz dan merasa
terkesan pada setiap perkataannya. Dua tahun kemudian, utusan yang berjumlah 75
orang mengundang Rasulullah untuk tinggal di Yastrib (Madinah) dengan harapan
ia dapat mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan. Di Madinah,
orang Yahudi sedang menantikan juru selamat, nyata-nyata telah mendorong rekan
sebangsa yang masih kafir untuk berpihak pada orang yang mengaku sebagai nabi
seperti Muhammad. Setelah gagal dalam dakwahnya di Taif, Muhammad mengizinkan
200 orang pengikutnya untuk menghindari kekejaman Quraisy dan pergi diam-diam
ke Madinah. Muhammad sendiri menyusul bersama Abu Bakar dan tiba disana pada 24
september 622 M.
Berkaca dari perjuangan Rasulullah
dan kaum muslimin di masa Hijrah, ternyata perjalanan hijrah bukanlah sebuah
pelarian semata dari kekejaman kafir Quraisy, namun perjalanan yang sudah
direncanakan semenjak dua tahun sebelumnya. Hal ini merupakan waktu yang cukup
panjang untuk memikirkan segala resiko yang akan dihadapi dalam hijrahnya. Maka
analoginya, aktivitas segunung yang dilakukan sekarang tidak menjadi jaminan
kesuksesan usaha yang dilakukan. Banyaknya kegiatan dari bangun tidur sampai
tidur kembali, bahkan ada yang saking sibuknya sampai tidak memiliki waktu untuk
beribadah dan untuk keluarga. Pergi pagi pulang larut malam untuk mencari
nafkah untuk kehidupan dunia bukanlah jaminan kebahagian dan kesuksesan usaha
yang dilakukan. Tapi perlu merenung untuk berpikir sejenak, perlu planning yang matang sebelum bertindak akan
menentukan kesuksesan setiap aktivitas yang dilakukan. Dalam pepatah dikatakan “if false to plan, you plan to false/
jika kamu gagal merencanakan, berarti kamu merencanakan kegagalan”.
Maka pantaslah ketika Rasullah kembali
ke Mekkah setelah 10 tahun hijrah, beliau di sambut baik oleh kaum Muslimin karena
kesuksesan dakwah beliau sebagaimana firman Allah swt dalam qs. An-Nashr ayat
1-3; 1) Apabila telah datang pertolongan
Allah dan kemenangan, 2) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. Saat ini sudah 1437 tahun semenjak
peristiwa hijrahnya Rasulullah. Suatu rentang waktu yang sangat lama, banyak
generasi yang hidup dan telah berganti pada rentang waktu ini. Saat ini Islam
sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, populasi muslim
merupakan jumlah penduduk terbesar, namun dari segi pemanfaatan waktu sesuai
tuntunan Islam, mungkin umat Islam masih perlu kembali mencontoh efektivitas
waktu sebagaimana yang telah dipraktekkan umat lain karena sudah merealisasikan
apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi awal Islam. Karena dalam
faktanya saat ini justru umat Islam masih tertinggal jauh dari agama lain. Banyak
yang mengaku Islam namun tidak mau mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang
telah dilakukan Rasulullah saw.
Ketika penghujung tahun ini maka saatnya
untuk berpikir jernih, mengambil ibrah setiap aktivitas, saatnya berbagi manfaat.
Umat Islam pada ini perlu belajar kembali agar bisa menaklukkan waktu dan
mengamalkan sifat keteladanan Rasulullah:
1.
Siddiq (benar/ truthful,
correct)
Umat Islam harus benar dalam ucapan maupun perbuatan.
2.
Amanah (terpercaya/
accountable)
Umat Islam harus bisa dipercaya, harus mampu menjaga
kepercayaan terhadap segala kewajiban yang ada dipundaknya.
3.
Fathanah (cerdas/
knowledgable, smart)
Umat Islam harus cerdas/ pintar, makanya mesti senatiasa
belajar dan menambah ilmu pengetahuan karena Allah akan meningggikan derajat
orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam pepatah minangkabau dikatakan
“alam takambang jadi guru”, hal ini berarti belajar tidak hanya dilakukan sekolah namun bisa dari buku dan dari alam
sekitar.
4.
Tabligh (menyampaikan/
communicative, personable)
Umat Islam harus mau membagikan/ menyampaikan ilmu yang
dimiliki pada yang lain, hal ini akan menambah berkahnya ilmu, ibarat air dalam
bak yang selalu diisi namun tidak pernah diganti atau tidak dibiarkan mengalir
akan menjadi keruh, sangat berbeda dengan air sungai yang selalu mengalir
sehingga bersih dan termasuk kategori suci jika digunakan untuk berwudhu’
(kecuali jika air sungai sudar tercemar karena ilegal mining).
Jadi menghadapi momentum pergantian
waktu dipenghujung tahun 1436 H ini merupakan saat yang tepat untuk menjadi
pribadi yang lebih baik untuk kemaslahatan umat. Karena jika hidup sudah tidak
bisa berbagi bijak, bagimana jika badan sudah menjadi tanah. Selagi masih ada
waktu, kesempatan terbentang luas, hanya ada dua pilihan menghadapi waktu:
menaklukkan atau ditaklukkan?”. (arikel yg dimuat di tabloid PAB Kemenag Sumbar)
No comments:
Post a Comment