Sunday, 6 December 2015

artikel dimuat di Tabloid Penuntun Amal Bhakti Kemenag Sumbar edisi Oktober 2015

PERGANTIAN TAHUN BARU ISLAM 1437 H, PERUBAHAN WAKTU
MOMENTUM MENAKLUKKAN ATAU DITAKLUKKAN?
Oleh: Afrina Letti, S.PdI,MA
Guru PAI SMA Negeri Unggul Dharmasraya

Waktu merupakan sesuatu yang akan dilalui oleh semua orang dengan kuantitas yang sama, 24 jam sehari, namun tidak semua orang bisa memanfaatkan dan menjadikan waktunya berkualitas. Akan terjadi perbedaan orientasi dalam membaca waktu antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Dalam qs. Al-‘Ashr:1-3 Allah swt berfirman, yang artinya “1)Demi masa, 2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, 3)kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Dalam ayat tersebut Allah swt bersumpah demi masa (waktu), hal ini mengindikasikan betapa pentingnya waktu bagi manusia supaya tidak termsuk dalam golongan orang yang merugi.
Setiap satuan waktu memiliki ibrahnya sendiri, tergantung seperti apa kita memaknainya. Para ulama mengatakan bahwa “al waqtu huwa al hayah” (waktu adalah kehidupan). Mereka memaknainya sebagai sarana untuk mengabdi pada Allah swt. Imam Syafi’i seorang ulama besar Islam yang baru berusia 50 tahun ketika wafatnya, namun telah meninggalkan ilmu ushul fiqh yang membantu semua generasi memahami kitab dan sunnah.  Beliau merupakan salah seorang hamba Allah yang memperoleh keberkahan waktu dalam hidupnya. Beliau mengatakan “jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran, maka engkau akan disibukkan dengan kebathilan”. Menyikapi hal ini dimanakah posisi diri? Termasuk orang yang sibuk dengan kebenaran ataukah kebathilan?
Setiap satuan waktu memiliki momentumnya sendiri, tergantung seperti apa kita memanfaatkannya. Sekarang sudah diakhir 1436 H dan sebentar lagi waktu akan berganti menjadi 1437 H. Jika dibawa merenung sejenak, ternyata setiap makhluk Allah diberikan waktu yang sama dan terangkai indah dalam detik, menit, jam yang berubah menjadi kumpulan hari-hari, ketika berganti hari berganti menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun yang terus berlalu, maka semakin berkurang pula jatah hidup di dunia ini.
Mengingat saat ini sebentar lagi waktunya pergantian tahun baru Islam, ini berarti menapak tilasi awal perpindahan/ Hijrahnya Rasulullah dan kaum muslimin dari Mekah ke Yastrib (Madinah) yag merupakan momentum awal dari perkembangan dakwah Rasulullah saw. Peristiwa hijrah telah mengakhiri periode dakwah di Mekah dan mengawali periode Madinah sebagai titik balik kehidupan Rasulullah saw. Perkembangan Islam yang sangat terbatas di Mekkah menjadi luar biasa ketika Rasulullah hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama Yastrib.
Peristiwa hijrah berawal dari datangnya beberapa orang Yastrib (Madinah) pada tahun 620 M yang kebanyakan berasal dari suku Khazraj, menemui nabi Muhammad pada festival Ukaz dan merasa terkesan pada setiap perkataannya. Dua tahun kemudian, utusan yang berjumlah 75 orang mengundang Rasulullah untuk tinggal di Yastrib (Madinah) dengan harapan ia dapat mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan. Di Madinah, orang Yahudi sedang menantikan juru selamat, nyata-nyata telah mendorong rekan sebangsa yang masih kafir untuk berpihak pada orang yang mengaku sebagai nabi seperti Muhammad. Setelah gagal dalam dakwahnya di Taif, Muhammad mengizinkan 200 orang pengikutnya untuk menghindari kekejaman Quraisy dan pergi diam-diam ke Madinah. Muhammad sendiri menyusul bersama Abu Bakar dan tiba disana pada 24 september 622 M.
Berkaca dari perjuangan Rasulullah dan kaum muslimin di masa Hijrah, ternyata perjalanan hijrah bukanlah sebuah pelarian semata dari kekejaman kafir Quraisy, namun perjalanan yang sudah direncanakan semenjak dua tahun sebelumnya. Hal ini merupakan waktu yang cukup panjang untuk memikirkan segala resiko yang akan dihadapi dalam hijrahnya. Maka analoginya, aktivitas segunung yang dilakukan sekarang tidak menjadi jaminan kesuksesan usaha yang dilakukan. Banyaknya kegiatan dari bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan ada yang saking sibuknya sampai tidak memiliki waktu untuk beribadah dan untuk keluarga. Pergi pagi pulang larut malam untuk mencari nafkah untuk kehidupan dunia bukanlah jaminan kebahagian dan kesuksesan usaha yang dilakukan. Tapi perlu merenung untuk berpikir sejenak, perlu planning yang matang sebelum bertindak akan menentukan kesuksesan setiap aktivitas yang dilakukan. Dalam pepatah dikatakan “if false to plan, you plan to false/ jika kamu gagal merencanakan, berarti kamu merencanakan kegagalan”.
Maka pantaslah ketika Rasullah kembali ke Mekkah setelah 10 tahun hijrah, beliau di sambut baik oleh kaum Muslimin karena kesuksesan dakwah beliau sebagaimana firman Allah swt dalam qs. An-Nashr ayat 1-3; 1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. Saat ini sudah 1437 tahun semenjak peristiwa hijrahnya Rasulullah. Suatu rentang waktu yang sangat lama, banyak generasi yang hidup dan telah berganti pada rentang waktu ini. Saat ini Islam sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, populasi muslim merupakan jumlah penduduk terbesar, namun dari segi pemanfaatan waktu sesuai tuntunan Islam, mungkin umat Islam masih perlu kembali mencontoh efektivitas waktu sebagaimana yang telah dipraktekkan umat lain karena sudah merealisasikan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi awal Islam. Karena dalam faktanya saat ini justru umat Islam masih tertinggal jauh dari agama lain. Banyak yang mengaku Islam namun tidak mau mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah saw.
Ketika penghujung tahun ini maka saatnya untuk berpikir jernih, mengambil ibrah setiap aktivitas, saatnya berbagi manfaat. Umat Islam pada ini perlu belajar kembali agar bisa menaklukkan waktu dan mengamalkan sifat keteladanan Rasulullah:
1.  Siddiq (benar/ truthful, correct)
Umat Islam harus benar dalam ucapan maupun perbuatan.
2.  Amanah (terpercaya/ accountable)
Umat Islam harus bisa dipercaya, harus mampu menjaga kepercayaan terhadap segala kewajiban yang ada dipundaknya.
3.  Fathanah (cerdas/ knowledgable, smart)
Umat Islam harus cerdas/ pintar, makanya mesti senatiasa belajar dan menambah ilmu pengetahuan karena Allah akan meningggikan derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam pepatah minangkabau dikatakan “alam takambang jadi guru”, hal ini berarti belajar tidak hanya dilakukan  sekolah namun bisa dari buku dan dari alam sekitar.
4.  Tabligh (menyampaikan/ communicative, personable)
Umat Islam harus mau membagikan/ menyampaikan ilmu yang dimiliki pada yang lain, hal ini akan menambah berkahnya ilmu, ibarat air dalam bak yang selalu diisi namun tidak pernah diganti atau tidak dibiarkan mengalir akan menjadi keruh, sangat berbeda dengan air sungai yang selalu mengalir sehingga bersih dan termasuk kategori suci jika digunakan untuk berwudhu’ (kecuali jika air sungai sudar tercemar karena ilegal mining).
Jadi menghadapi momentum pergantian waktu dipenghujung tahun 1436 H ini merupakan saat yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk kemaslahatan umat. Karena jika hidup sudah tidak bisa berbagi bijak, bagimana jika badan sudah menjadi tanah. Selagi masih ada waktu, kesempatan terbentang luas, hanya ada dua pilihan menghadapi waktu: menaklukkan atau ditaklukkan?”. (arikel yg dimuat di tabloid PAB Kemenag Sumbar)



No comments:

Post a Comment