Sunday, 6 December 2015

artikel di Tabloid Wahana Media Edisi 31 Agustus 2015

PENDIDIKAN MERAWAT KEMERDEKAAN
Oleh: Afrina Letti, S.PdI,MA
Guru SMA Negeri Unggul Dharmasraya (Boarding School)


          Kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia selama 70 tahun ini merupakan rahmat Allah SWT. Ini merupakan nikmat yang hakiki, dengan kemerdekaan telah membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan dan penghambaan pada manusia. Sebagai wujud syukur atas nikmat Allah SWT yang bernama kemerdekaan ini, maka harus diisi dengan pembangunan di segala bidang yang sesuai dengan nilai-nilai yang diridhoi-NYA.
Merawat kemerdekaan merupakan sesuatu yang harus dilakukan agar kemerdekaan itu bisa tetap dirasakan oleh semua rakyat Indonesia. Ibarat bunga yang indah dan baru dibeli kemudian ditanam dalam pot yang bagus, tidak akan memberikan hasil yang bagus tanpa dirawat, begitu juga dengan kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan dan pertumpahan darah pahlawan bangsa, maka generasi sekarang harus senantiasa merawatnya, salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Karena pendidikan merupakan elemen penentu kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, rakyat Indonesia bisa hidup sejajar dengan warga negara lainnya di dunia. Namun, di 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini, pendidikan belum optimal dalam merawat kemerdekaan karena pembangunan di bidang pendidikan belum dirasakan secara menyeluruh oleh rakyat Indonesia. Peggunaan 20% dana APBN untuk pendidikan lebih banyak digunakan untuk infrastrukur atau fisik seperti pembangunan gedung sekolah, namun untuk pembangunan psikis seperti pengadaan buku, pelatihan dan sarana membangun mental lainnya belum begitu terasa. Mahalnya biaya pendidikan dan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan di daerah, terutama di daerah 3 T (terluar, terpencil dan terdalam) juga merupakan masalah pendidikan yang masih kontiniu hingga saat ini.
          Pendidikan di 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini sepertinya berbanding terbalik dengan pendidikan di Jepang yang mengalami masa rekonstruksi pasca bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki yang waktunya hampir sama dengan kemerdekaan Indonesia yaitu sama-sama terjadi pada bulan Agustus 1945. Karena hal pertama yang ditanyakan kaisar Jepang pasca bom adalah guru yang akan membangun negaranya dari segi pendidikan, bukan arsitek untuk membangun fisik, bukan juga dokter untuk mengobati pasca bencana. Hasilnya yang luar biasa terlihat saat ini Jepang telah mengalami kemajuan yang pesat dan mereka bisa tampil sebagai ikon negara maju karena usaha keras para gurunya. Namun sangat disayangkan hingga saat ini, negara tercinta Indonesia ini masih jauh tertinggal dalam bidang pendidikan.

Pembina Insan Cendekia
          Berhasil tidaknya pendidikan  disuatu negara tidak terlepas dari peran besar seorang guru. Dari tangan-tangan guru lah lahirnya insan cendekia sebagai generasi penerus estafet perjuangan bangsa. Maju mundurnya pendidikan salah satu penyebabnya juga guru. Walaupun pada kenyataannya, jika pendidikan berkualitas dan siswa tampil sebagai juara, maka orang akan bertanya siapa orang tuanya. Namun, jika seorang siswa berakhlak yang tidak baik atau tinggal kelas, maka semua orang akan bertanya siapa gurunya dan dimana sekolahnya.
Seorang guru adalah pahlawan pembina insan cendekia seperti bait terakhir Hymne guru. Butuh berbagai tekhnik dan kesabaran ekstra bagi seorang guru agar bisa membina siswa menjadi insan cendekia. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional Indonesia menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Maka disini sangat besar peran guru untuk membina dan mengarahkan peserta didiknya agar sesuai dengan tujua pendidikan nasional. Mencontoh dari apa yang telah diajarkan Rasulullah saw, maka keteladanan merupakan hal utama yang harus ada pada seorang guru.
          Dengan adanya keteladanan, maka tanggung jawab besar dan resiko yang besar dalam usaha merawat kemerdekaan akan terasa kecil. Sangat diperlukan keikhlasan dan kesabaran dari seorang guru. Dalam setiap tingkah laku dan sikapnya haruslah bisa untuk di gugu dan di tiru karena seorang guru akan menjadi garda depan dalam pembangunan manusia bidang pendidikan. Guru harus tetap berpikir apa yang akan diberikannya pada negara ini untuk mencerdaskan warga negaranya. Karena nasib guru sudah dipikirkan oleh pemrintah, meski saat ini tidak semua guru yang sudah menikmati penghidupan yang layak dengan adanya sertifikasi guru. Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai pendidik di sekolah maka semua guru akan menjadi panutan bagi siswanya. Oleh karena itu, segala tingkah laku dan tindak tanduknya harus menjadi pantas disebut sebagai guru. Begitu juga dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas, seorang guru harus menguasai materi yang diajarkannya lengkap dengan berbagai metode dan media yang mendukung keaktifan siswa. Guru harus senantiasa menambah wawasan keilmuannya agar apa yang disampaikannya di kelas sesuai dengan kondisi terkini. Karena jika guru hanya mengandalkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang.

Ingin lebih merdeka
Pada peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini, kemerdekaan finansial sudah dirasakan oleh sebagian guru yang sudah bersertifikat profesional. Dengan sertifikat tersebut maka profesi guru sudah sejajar dengan profesi lainnya seperti pengacara, dokter, dll. Namun dengan adanya tunjangan sertifikasi tersebut, muncul lagi belenggu baru yang menghambat kemerdekaan seorang guru terutama dengan adanya kewajiban untuk mengajar minimal 24 jam per minggu dengan jumlah siswa per kelas minimal 20 siswa untuk tingkat SMP/ SMA sehingga menyebabkan guru mengajar di lebih dari 1 sekolah karena kekurangan jumlah siswa atau kekurangan jam mengajar.
Permasalahan lain yang menghambat kemerdekaan guru di kelas adalah karena masih adanya dibeberapa sekolah yang sangat besar campur tangan orang tua terhadap pembelajaran di sekolah, terutama bagi sekolah yang didomiasi oleh anak pejabat di daerah. Harusnya pada 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini, negara sudah terbebas dari dikotomi pendidikan. Penegasan Menteri pendidikan Dasar dan Menengah, bapak Anies Baswedan tentang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) hanyalah untuk pemetaan pendidikan harusnya menjadi perhatian bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan. Sehingga nilai-nilai kejujuran yang diajarkan guru di kelas tetap terlaksana meski UN karena sekolah tidak perlu lagi disibukkan untuk memikirkan agar siswa lulus  UN 100%. Seharusnya, jika pemerintah ingin memajukan sektor pendidikan, bukan dilihat dari peringkat UN, tapi lihatlah dari kemampuan siswanya bisa diterima diperguruan tinggi favorit baik di dalam maupun diluar negeri dan bagaimana hasilnya ketika siswanya nanti terjun di dunia kerja. Untuk apa lulus UN 100% jika harus menggadaikan kejujuran.
Alangkah baiknya jika disetiap kelas dan seluruh lingkungan sekolah ada kamera pengintai atau Closed Circuit Television (CCTV) sehingga semua pihak yang berkepentingan dengan kemajuan pendidikan bisa mengakses dan mengawasi kegiatan pembelajaran. Sehingga kegiatan guru di kelas bisa dengan mudah dipantau untuk dievaluasi agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Merawat kemerdekaan dengan  pendidikan juga mengharuskan agar dalam proses pembelajaran di kelas diajarkan semangat keberanian yang telah dicontohkan oleh para pejuang kemerdekaan. Dengan keberaniannya telah membuat pemuda dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk  mengikrarkan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Bung Karno dengan keberaniannya telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 ketika Jepang baru saja menyerah tanpa syarat terhadap sekutu. Keberanian telah membuat bung Tomo berhasil memukul mundur kembalinya tentara NICA pasukan penjajah Belanda pada 10 November 1945. Keberanian juga yang telah menjadikan Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Adanya kemerdekaan telah membebaskan rakyat Indonesia untuk menempuh pendidikan dan meraih cita-cita untuk kemajuan bangsa. Dengan adanya pendidikan inilah bangsa Indonesia bisa sadar akan sulitnya kondisi terjajah. 350 tahun dalam cengkeraman Belanda dan 3,5 tahun dalam belenggu penjajahan Jepang merupakan waktu yang sangat panjang bagi bangsa Indonesia dalam kondisi keterpurukan. Pendidikan sudah dikenal di Indonesia pada masa penjajahan yang berkembang luas dikalangan ulama Indonesia sehingga mulai dibentuknya beberapa organisasi kepemudaan di berbagai daerah di Indonesia. Di Sumatera Barat seperti didirikannya INS Kayu Tanam oleh Mohammad Syafei.
          Dalam praktik pendidikan, maka kemerdekaan harus dirasakan dalam seluruh proses pembelajaran dan interaksi dengan semua warga sekolah. Para pelajar harus mampu mentransformasikan diri menjadi manusia yang bebas atau merdeka. Karena institusi  pendidikan di lingkungannya memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk membangun kesadaran dan mengembangkan spirit kemerdekaan. Kebiasaan yang bebas dan merdeka ini juga bisa direalisasikannya secara nyata di lingkungannya. Merdeka itu ketika rakyat Indonesia bisa dengan leluasa menikmati segala hasil kemerdekaan dengan nasionalisme. Ketika sumber daya alam milik negara bisa mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan mengajarkan kita bebas dari segala belenggu keterpurukan. Kemerdekaan menentukan cara kita bertindak, bukan orang lain. Menjadikan kita bebas menentukan dan mengatur hidup kita sendiri. Karena kitalah yang menentukan masa depan sendiri. Kemerdekaan mengajarkan kita bertindak sesuai hati nurani, membalas keburukan dengan kebaikan. Kemerdekaan mengajarkan untuk tidak membiarkan seseorang mempengaruhi sikap baik kita. Kemerdekaan menjadikan sikap pemurah kita tetap berlaku meskipun menghadapi orang yang pelit. Kemerdekaan menjadikan kita berpikir bahwa tidak ada yang bisa mempengaruhi tindakan kita. Kemerdekaan tidak perlu menunggu seseorang berbuat baik agar diperlakuakan baik. Kemerdekaan memjadikan suasana hati tetap terjaga, tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhi suasana hati, sehingga membebaskan hati dari segala pikiran negatif. Pemenang kehidupan adalah orang yang merdeka dengan tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, tetap sejuk ditempat yang panas, tetap manis ditempat yang pahit, tetap tenang meski ditengah badai. Merdeka itu berpikir berani dan mengambil keputusan. Orang yang plin plan berarti belum merdeka. Semua kemerdekaan itu hanya bisa diperoleh dengan pendidikan. Marilah berpendidikan untuk bisa merawat kemerdekaan. Selamat hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-70, Jayalah Negeriku, Majulah bangsaku !! (dimuat di Tabloid Wahana Media, 31Agustus 2015)




No comments:

Post a Comment