Oleh: Afrina Letti,
S.PdI,MA
Guru SMA Negeri
Unggul Dharmasraya (Boarding School)
Kemerdekaan
yang telah diraih bangsa Indonesia selama 70 tahun ini merupakan rahmat Allah
SWT. Ini merupakan nikmat yang hakiki, dengan kemerdekaan telah membebaskan
rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan dan penghambaan pada manusia. Sebagai
wujud syukur atas nikmat Allah SWT yang bernama kemerdekaan ini, maka harus
diisi dengan pembangunan di segala bidang yang sesuai dengan nilai-nilai yang
diridhoi-NYA.
Merawat kemerdekaan merupakan sesuatu
yang harus dilakukan agar kemerdekaan itu bisa tetap dirasakan oleh semua
rakyat Indonesia. Ibarat bunga yang indah dan baru dibeli kemudian ditanam
dalam pot yang bagus, tidak akan memberikan hasil yang bagus tanpa dirawat,
begitu juga dengan kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan dan
pertumpahan darah pahlawan bangsa, maka generasi sekarang harus senantiasa
merawatnya, salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Karena pendidikan
merupakan elemen penentu kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, rakyat
Indonesia bisa hidup sejajar dengan warga negara lainnya di dunia. Namun, di 70
tahun kemerdekaan Indonesia ini, pendidikan belum optimal dalam merawat
kemerdekaan karena pembangunan di bidang pendidikan belum dirasakan secara
menyeluruh oleh rakyat Indonesia. Peggunaan 20% dana APBN untuk pendidikan
lebih banyak digunakan untuk infrastrukur atau fisik seperti pembangunan gedung
sekolah, namun untuk pembangunan psikis seperti pengadaan buku, pelatihan dan
sarana membangun mental lainnya belum begitu terasa. Mahalnya biaya pendidikan
dan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan di daerah, terutama di daerah 3 T
(terluar, terpencil dan terdalam) juga merupakan masalah pendidikan yang masih
kontiniu hingga saat ini.
Pendidikan
di 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini sepertinya berbanding terbalik dengan
pendidikan di Jepang yang mengalami masa rekonstruksi pasca bom atom di kota
Hiroshima dan Nagasaki yang waktunya hampir sama dengan kemerdekaan Indonesia
yaitu sama-sama terjadi pada bulan Agustus 1945. Karena hal pertama yang
ditanyakan kaisar Jepang pasca bom adalah guru yang akan membangun negaranya
dari segi pendidikan, bukan arsitek untuk membangun fisik, bukan juga dokter
untuk mengobati pasca bencana. Hasilnya yang luar biasa terlihat saat ini
Jepang telah mengalami kemajuan yang pesat dan mereka bisa tampil sebagai ikon
negara maju karena usaha keras para gurunya. Namun sangat disayangkan hingga
saat ini, negara tercinta Indonesia ini masih jauh tertinggal dalam bidang
pendidikan.
Pembina
Insan Cendekia
Berhasil
tidaknya pendidikan disuatu negara tidak
terlepas dari peran besar seorang guru. Dari tangan-tangan guru lah lahirnya insan
cendekia sebagai generasi penerus estafet perjuangan bangsa. Maju mundurnya
pendidikan salah satu penyebabnya juga guru. Walaupun pada kenyataannya, jika
pendidikan berkualitas dan siswa tampil sebagai juara, maka orang akan bertanya
siapa orang tuanya. Namun, jika seorang siswa berakhlak yang tidak baik atau
tinggal kelas, maka semua orang akan bertanya siapa gurunya dan dimana
sekolahnya.
Seorang guru adalah pahlawan pembina
insan cendekia seperti bait terakhir Hymne guru. Butuh berbagai tekhnik dan
kesabaran ekstra bagi seorang guru agar bisa membina siswa menjadi insan
cendekia. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional Indonesia menurut
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3
berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab”. Maka disini sangat besar peran guru untuk
membina dan mengarahkan peserta didiknya agar sesuai dengan tujua pendidikan
nasional. Mencontoh dari apa yang telah diajarkan Rasulullah saw, maka
keteladanan merupakan hal utama yang harus ada pada seorang guru.
Dengan
adanya keteladanan, maka tanggung jawab besar dan resiko yang besar dalam usaha
merawat kemerdekaan akan terasa kecil. Sangat diperlukan keikhlasan dan
kesabaran dari seorang guru. Dalam setiap tingkah laku dan sikapnya haruslah
bisa untuk di gugu dan di tiru karena seorang guru akan menjadi garda depan
dalam pembangunan manusia bidang pendidikan. Guru harus tetap berpikir apa yang
akan diberikannya pada negara ini untuk mencerdaskan warga negaranya. Karena
nasib guru sudah dipikirkan oleh pemrintah, meski saat ini tidak semua guru
yang sudah menikmati penghidupan yang layak dengan adanya sertifikasi guru. Dalam
melaksanakan tanggung jawab sebagai pendidik di sekolah maka semua guru akan
menjadi panutan bagi siswanya. Oleh karena itu, segala tingkah laku dan tindak
tanduknya harus menjadi pantas disebut sebagai guru. Begitu juga dalam penyampaian
materi pembelajaran di kelas, seorang guru harus menguasai materi yang
diajarkannya lengkap dengan berbagai metode dan media yang mendukung keaktifan
siswa. Guru harus senantiasa menambah wawasan keilmuannya agar apa yang
disampaikannya di kelas sesuai dengan kondisi terkini. Karena jika guru hanya
mengandalkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah sudah tidak relevan lagi
dengan kondisi sekarang.
Ingin
lebih merdeka
Pada peringatan 70 tahun kemerdekaan
Indonesia ini, kemerdekaan finansial sudah dirasakan oleh sebagian guru yang sudah
bersertifikat profesional. Dengan sertifikat tersebut maka profesi guru sudah
sejajar dengan profesi lainnya seperti pengacara, dokter, dll. Namun dengan
adanya tunjangan sertifikasi tersebut, muncul lagi belenggu baru yang
menghambat kemerdekaan seorang guru terutama dengan adanya kewajiban untuk
mengajar minimal 24 jam per minggu dengan jumlah siswa per kelas minimal 20
siswa untuk tingkat SMP/ SMA sehingga menyebabkan guru mengajar di lebih dari 1
sekolah karena kekurangan jumlah siswa atau kekurangan jam mengajar.
Permasalahan lain yang menghambat
kemerdekaan guru di kelas adalah karena masih adanya dibeberapa sekolah yang
sangat besar campur tangan orang tua terhadap pembelajaran di sekolah, terutama
bagi sekolah yang didomiasi oleh anak pejabat di daerah. Harusnya pada 70 tahun
kemerdekaan Indonesia ini, negara sudah terbebas dari dikotomi pendidikan. Penegasan
Menteri pendidikan Dasar dan Menengah, bapak Anies Baswedan tentang pelaksanaan
Ujian Nasional (UN) hanyalah untuk pemetaan pendidikan harusnya menjadi
perhatian bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan. Sehingga
nilai-nilai kejujuran yang diajarkan guru di kelas tetap terlaksana meski UN
karena sekolah tidak perlu lagi disibukkan untuk memikirkan agar siswa
lulus UN 100%. Seharusnya, jika
pemerintah ingin memajukan sektor pendidikan, bukan dilihat dari peringkat UN,
tapi lihatlah dari kemampuan siswanya bisa diterima diperguruan tinggi favorit
baik di dalam maupun diluar negeri dan bagaimana hasilnya ketika siswanya nanti
terjun di dunia kerja. Untuk apa lulus UN 100% jika harus menggadaikan
kejujuran.
Alangkah baiknya jika disetiap kelas
dan seluruh lingkungan sekolah ada kamera pengintai atau Closed Circuit Television (CCTV) sehingga semua pihak yang
berkepentingan dengan kemajuan pendidikan bisa mengakses dan mengawasi kegiatan
pembelajaran. Sehingga kegiatan guru di kelas bisa dengan mudah dipantau untuk
dievaluasi agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Merawat kemerdekaan dengan pendidikan juga mengharuskan agar dalam proses
pembelajaran di kelas diajarkan semangat keberanian yang telah dicontohkan oleh
para pejuang kemerdekaan. Dengan keberaniannya telah membuat pemuda dari
berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk mengikrarkan sumpah pemuda pada 28 Oktober
1928. Bung Karno dengan keberaniannya telah memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945 ketika Jepang baru saja menyerah tanpa syarat
terhadap sekutu. Keberanian telah membuat bung Tomo berhasil memukul mundur
kembalinya tentara NICA pasukan penjajah Belanda pada 10 November 1945.
Keberanian juga yang telah menjadikan Mesir sebagai negara pertama yang
mengakui kemerdekaan Indonesia. Adanya kemerdekaan telah membebaskan rakyat
Indonesia untuk menempuh pendidikan dan meraih cita-cita untuk kemajuan bangsa.
Dengan adanya pendidikan inilah bangsa Indonesia bisa sadar akan sulitnya
kondisi terjajah. 350 tahun dalam cengkeraman Belanda dan 3,5 tahun dalam
belenggu penjajahan Jepang merupakan waktu yang sangat panjang bagi bangsa
Indonesia dalam kondisi keterpurukan. Pendidikan sudah dikenal di Indonesia
pada masa penjajahan yang berkembang luas dikalangan ulama Indonesia sehingga
mulai dibentuknya beberapa organisasi kepemudaan di berbagai daerah di
Indonesia. Di Sumatera Barat seperti didirikannya INS Kayu Tanam oleh Mohammad
Syafei.
Dalam
praktik pendidikan, maka kemerdekaan harus dirasakan dalam seluruh proses
pembelajaran dan interaksi dengan semua warga sekolah. Para pelajar harus mampu
mentransformasikan diri menjadi manusia yang bebas atau merdeka. Karena
institusi pendidikan di lingkungannya
memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk membangun kesadaran dan
mengembangkan spirit kemerdekaan. Kebiasaan yang bebas dan merdeka ini juga
bisa direalisasikannya secara nyata di lingkungannya. Merdeka itu ketika rakyat
Indonesia bisa dengan leluasa menikmati segala hasil kemerdekaan dengan
nasionalisme. Ketika sumber daya alam milik negara bisa mensejahterakan seluruh
rakyat Indonesia. Kemerdekaan mengajarkan kita bebas dari segala belenggu
keterpurukan. Kemerdekaan menentukan cara kita bertindak, bukan orang lain.
Menjadikan kita bebas menentukan dan mengatur hidup kita sendiri. Karena
kitalah yang menentukan masa depan sendiri. Kemerdekaan mengajarkan kita
bertindak sesuai hati nurani, membalas keburukan dengan kebaikan. Kemerdekaan
mengajarkan untuk tidak membiarkan seseorang mempengaruhi sikap baik kita.
Kemerdekaan menjadikan sikap pemurah kita tetap berlaku meskipun menghadapi
orang yang pelit. Kemerdekaan menjadikan kita berpikir bahwa tidak ada yang
bisa mempengaruhi tindakan kita. Kemerdekaan tidak perlu menunggu seseorang
berbuat baik agar diperlakuakan baik. Kemerdekaan memjadikan suasana hati tetap
terjaga, tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhi suasana hati, sehingga
membebaskan hati dari segala pikiran negatif. Pemenang kehidupan adalah orang
yang merdeka dengan tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, tetap sejuk
ditempat yang panas, tetap manis ditempat yang pahit, tetap tenang meski
ditengah badai. Merdeka itu berpikir berani dan mengambil keputusan. Orang yang
plin plan berarti belum merdeka. Semua kemerdekaan itu hanya bisa diperoleh
dengan pendidikan. Marilah berpendidikan untuk bisa merawat kemerdekaan. Selamat
hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-70, Jayalah Negeriku, Majulah bangsaku !! (dimuat di Tabloid Wahana Media, 31Agustus 2015)
No comments:
Post a Comment