Monday, 21 December 2015
My Blog Fhey: Sejarah Nagari Sisawah
My Blog Fhey: Sejarah Nagari Sisawah: Kesatuan politik dan geografis yang utama di Minangkabau tradisional adalah nagari. Setiap nagari memiliki sejarah...
Sunday, 6 December 2015
artikel di Tabloid Wahana Media 31 Agustus 2014
ZAMAN
GLOBALISASI, MASIHKAH DIBUTUHKAN GURU?
Oleh: Afrina Letti
Pemerhati Pendidikan dari Koto Baru, Kab. Dharmasraya
Globalisasi
adalah Suatu proses dimana antar individu , antar kelompok dan antar negara
berinteraksi , bergantung , terkait dan mempengaruhi satu sama lain yang
melintasi batas negara dalam banyak hal. Globalisasi merupakan peningkatan saling ketergantungan
antar negara di dunia, bahwa tidak ada negara yang mampu hidup sendiri tanpa
bantuan negara lain.
Seorang
guru merupakan orang yang berpengetahuan luas, memiliki cahaya yang menerangi kehidupan
manusia, musuh kebodohan dan pengganti kejahiliyahan. Seorang guru tidak hanya
mencerdaskan akal dengan berbagai ilmu pengetahuan, namun juga mencerahkan akhlak
dengan tingkah lakunya sehingga pantas disebut sebagai guru, orang yang akan
digugu dan ditiru. Seorang guru ibarat juga ibarat nakhoda kapal yang sangat
piawai menyetir kemudi kapal dan mengantarkan semua penumpang ke pulau impian.
Guru bagaikan mercusuar yang memberikan arah di malam hari, bagai pelita yang
akan menerangi dikegelapan.
Guru adalah roh dari proses
pendidikan, yang merupakan elemen utama dalam sistem pendidikan. Guru merupakan
individu yang selalu dibutuhkan meskipun teori-teori modern telah ditemukan dan
banyak media baik cetak maupun elektronik yang bisa dijadikan sebagai tempat
untuk menuntut ilmu. Guru adalah orang yang selalu dekat dengan keutamaan yang
memberikan suri teladan, menasehati orang lain dengan kebaikan dan hikmah. Karena jika ilmu yang diperoleh tidak
dimanfaatkan dengan baik akan bisa menjadi laknat atau mudharat, sedangkan
hikmah akan selalu memberikan kebaikan dan kemanfaatan. Sedangkan perangkat
tekhnologi lain hanya sebagai alat pelengkap dari sumber ilmu karena tidak
merasa, tidak berpikir, tidak menghargai dan masih membutuhkan penjelasan.
Seorang guru profesional harus
merasa dirinya penerus risalah Rasullah dengan melaksanakan urgensinya untuk
melanjutkan tugas rasul sebagai khalifah Allah dan penyampai risalah dimuka
bumi. Kemuliaan seorang guru disebabkan oleh tugas-tuganya yang mulia,
pandangan yang luas tentang ilmu yang diberikannya, pembelaannya terhadap
kebenaran, seruannya untuk menjaga kesucian hati dan jiwa serta menjaga dan
membela misi pendidikan. Guru yang akan menyebabkan kesuksesan masyarakat
sehingga bisa memberikan kemajuan pada kehidupan masyarakat. Gurulah ujung
tonggak penyebab kemenangan maupun kekalahan umat dalam pertempuran. Penentu
maju mundurnya pendidikan di dunia ini. Generasi masa depan negara berada di
hadapan guru. Meskipun saat ini otonomi daerah sedang berjalan namun untuk
pendidikan masih harus dipandang secara global, sehingga kualitas pendidikan suatu
daerah harus sebanding dengan daerah lain di Indonesia.
Oleh karenanya guru yang tugas
utamanya mendidik dan membina merupakan profesi yang harus dipersiapkan
terlebih dahulu dengan persiapan khusus. Karena pendidikan berhubungan dengan
manusia, yang akan mencetak kepribadian manusia sehingga digunakan seumur hidupnya
bahkan diwariskan pada generasi sesudahnya. Guru merupakan sumber informasi
utama bagi siswanya. Oleh karena itu seorang guru disamping menguasai bidang
ilmu yang akan diajarkannya juga mesti memahami
dan mendalami budaya masyarakat dimana dia melaksanakan tugasnya. Sehingga akhirnya dia mampu menyiapkan
generasi berilmu dan masyarakat yang berakhlak mulia. Apapun bidang studi yang
diajarkannya, seorang guru tetap harus menjadikan dirinya layak untuk disebut
guru yang akan digugu dan ditiru oleh sekelilingnya.
Jadi
seiring majunya ilmu pengetahuan dan tekhnologi maka guru juga harus semakin
menambah pengetahuannya agar perannya tidak tergantikan oleh tekhnologi. Hal
ini sangat sesuai dengan fiman Allah dalam surat an-Nahl ayat 125 yang artinya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah
yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah
yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Maka sudah menjadi keharusan bagi para
guru agar senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuannya dengan terus belajar.
Belajar tidak harus di lembaga pendidikan formal, tapi bisa juga dari alam.
Dalam falsafah adat minangkabau kita mengenal “alam takambang jadi guru”. Oleh karena itu para guru jangan pernah
merasa bosan untuk belajar meningkatkan ilmu pengetahuannya.
Jika siswanya sudah menguasai
tekhnologi komunikasi yang canggih dengan menggunakan berbagai jenis smart
phone, maka seorang guru juga harus melek tekhnologi jika ingin tetap eksis
dimata siswanya. Jangan lagi ada guru yang gaptek (gagap tekhnologi) dan tidak
tahu cara menggunakan internet. Sudah menjadi keharusan bagi seorang guru untuk
lebih update dari siswanya jika ingin menjadi idola bagi siswanya. Guru
harus menyadari bahwa mereka mempersiapkan siswa untuk masa yang akan datang
yang sudah sangat jauh berbeda dengan masa yang di hadapinya sekarang. Sehingga
bekal ilmu yang harus diberikan pada siswanya juga sangat berbeda dengan apa
yang telah diterimanya dahulu.
artikel di Tabloid Wahana Media Edisi 31 Agustus 2015
Oleh: Afrina Letti,
S.PdI,MA
Guru SMA Negeri
Unggul Dharmasraya (Boarding School)
Kemerdekaan
yang telah diraih bangsa Indonesia selama 70 tahun ini merupakan rahmat Allah
SWT. Ini merupakan nikmat yang hakiki, dengan kemerdekaan telah membebaskan
rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan dan penghambaan pada manusia. Sebagai
wujud syukur atas nikmat Allah SWT yang bernama kemerdekaan ini, maka harus
diisi dengan pembangunan di segala bidang yang sesuai dengan nilai-nilai yang
diridhoi-NYA.
Merawat kemerdekaan merupakan sesuatu
yang harus dilakukan agar kemerdekaan itu bisa tetap dirasakan oleh semua
rakyat Indonesia. Ibarat bunga yang indah dan baru dibeli kemudian ditanam
dalam pot yang bagus, tidak akan memberikan hasil yang bagus tanpa dirawat,
begitu juga dengan kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan dan
pertumpahan darah pahlawan bangsa, maka generasi sekarang harus senantiasa
merawatnya, salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Karena pendidikan
merupakan elemen penentu kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, rakyat
Indonesia bisa hidup sejajar dengan warga negara lainnya di dunia. Namun, di 70
tahun kemerdekaan Indonesia ini, pendidikan belum optimal dalam merawat
kemerdekaan karena pembangunan di bidang pendidikan belum dirasakan secara
menyeluruh oleh rakyat Indonesia. Peggunaan 20% dana APBN untuk pendidikan
lebih banyak digunakan untuk infrastrukur atau fisik seperti pembangunan gedung
sekolah, namun untuk pembangunan psikis seperti pengadaan buku, pelatihan dan
sarana membangun mental lainnya belum begitu terasa. Mahalnya biaya pendidikan
dan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan di daerah, terutama di daerah 3 T
(terluar, terpencil dan terdalam) juga merupakan masalah pendidikan yang masih
kontiniu hingga saat ini.
Pendidikan
di 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini sepertinya berbanding terbalik dengan
pendidikan di Jepang yang mengalami masa rekonstruksi pasca bom atom di kota
Hiroshima dan Nagasaki yang waktunya hampir sama dengan kemerdekaan Indonesia
yaitu sama-sama terjadi pada bulan Agustus 1945. Karena hal pertama yang
ditanyakan kaisar Jepang pasca bom adalah guru yang akan membangun negaranya
dari segi pendidikan, bukan arsitek untuk membangun fisik, bukan juga dokter
untuk mengobati pasca bencana. Hasilnya yang luar biasa terlihat saat ini
Jepang telah mengalami kemajuan yang pesat dan mereka bisa tampil sebagai ikon
negara maju karena usaha keras para gurunya. Namun sangat disayangkan hingga
saat ini, negara tercinta Indonesia ini masih jauh tertinggal dalam bidang
pendidikan.
Pembina
Insan Cendekia
Berhasil
tidaknya pendidikan disuatu negara tidak
terlepas dari peran besar seorang guru. Dari tangan-tangan guru lah lahirnya insan
cendekia sebagai generasi penerus estafet perjuangan bangsa. Maju mundurnya
pendidikan salah satu penyebabnya juga guru. Walaupun pada kenyataannya, jika
pendidikan berkualitas dan siswa tampil sebagai juara, maka orang akan bertanya
siapa orang tuanya. Namun, jika seorang siswa berakhlak yang tidak baik atau
tinggal kelas, maka semua orang akan bertanya siapa gurunya dan dimana
sekolahnya.
Seorang guru adalah pahlawan pembina
insan cendekia seperti bait terakhir Hymne guru. Butuh berbagai tekhnik dan
kesabaran ekstra bagi seorang guru agar bisa membina siswa menjadi insan
cendekia. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional Indonesia menurut
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3
berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab”. Maka disini sangat besar peran guru untuk
membina dan mengarahkan peserta didiknya agar sesuai dengan tujua pendidikan
nasional. Mencontoh dari apa yang telah diajarkan Rasulullah saw, maka
keteladanan merupakan hal utama yang harus ada pada seorang guru.
Dengan
adanya keteladanan, maka tanggung jawab besar dan resiko yang besar dalam usaha
merawat kemerdekaan akan terasa kecil. Sangat diperlukan keikhlasan dan
kesabaran dari seorang guru. Dalam setiap tingkah laku dan sikapnya haruslah
bisa untuk di gugu dan di tiru karena seorang guru akan menjadi garda depan
dalam pembangunan manusia bidang pendidikan. Guru harus tetap berpikir apa yang
akan diberikannya pada negara ini untuk mencerdaskan warga negaranya. Karena
nasib guru sudah dipikirkan oleh pemrintah, meski saat ini tidak semua guru
yang sudah menikmati penghidupan yang layak dengan adanya sertifikasi guru. Dalam
melaksanakan tanggung jawab sebagai pendidik di sekolah maka semua guru akan
menjadi panutan bagi siswanya. Oleh karena itu, segala tingkah laku dan tindak
tanduknya harus menjadi pantas disebut sebagai guru. Begitu juga dalam penyampaian
materi pembelajaran di kelas, seorang guru harus menguasai materi yang
diajarkannya lengkap dengan berbagai metode dan media yang mendukung keaktifan
siswa. Guru harus senantiasa menambah wawasan keilmuannya agar apa yang
disampaikannya di kelas sesuai dengan kondisi terkini. Karena jika guru hanya
mengandalkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah sudah tidak relevan lagi
dengan kondisi sekarang.
Ingin
lebih merdeka
Pada peringatan 70 tahun kemerdekaan
Indonesia ini, kemerdekaan finansial sudah dirasakan oleh sebagian guru yang sudah
bersertifikat profesional. Dengan sertifikat tersebut maka profesi guru sudah
sejajar dengan profesi lainnya seperti pengacara, dokter, dll. Namun dengan
adanya tunjangan sertifikasi tersebut, muncul lagi belenggu baru yang
menghambat kemerdekaan seorang guru terutama dengan adanya kewajiban untuk
mengajar minimal 24 jam per minggu dengan jumlah siswa per kelas minimal 20
siswa untuk tingkat SMP/ SMA sehingga menyebabkan guru mengajar di lebih dari 1
sekolah karena kekurangan jumlah siswa atau kekurangan jam mengajar.
Permasalahan lain yang menghambat
kemerdekaan guru di kelas adalah karena masih adanya dibeberapa sekolah yang
sangat besar campur tangan orang tua terhadap pembelajaran di sekolah, terutama
bagi sekolah yang didomiasi oleh anak pejabat di daerah. Harusnya pada 70 tahun
kemerdekaan Indonesia ini, negara sudah terbebas dari dikotomi pendidikan. Penegasan
Menteri pendidikan Dasar dan Menengah, bapak Anies Baswedan tentang pelaksanaan
Ujian Nasional (UN) hanyalah untuk pemetaan pendidikan harusnya menjadi
perhatian bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan. Sehingga
nilai-nilai kejujuran yang diajarkan guru di kelas tetap terlaksana meski UN
karena sekolah tidak perlu lagi disibukkan untuk memikirkan agar siswa
lulus UN 100%. Seharusnya, jika
pemerintah ingin memajukan sektor pendidikan, bukan dilihat dari peringkat UN,
tapi lihatlah dari kemampuan siswanya bisa diterima diperguruan tinggi favorit
baik di dalam maupun diluar negeri dan bagaimana hasilnya ketika siswanya nanti
terjun di dunia kerja. Untuk apa lulus UN 100% jika harus menggadaikan
kejujuran.
Alangkah baiknya jika disetiap kelas
dan seluruh lingkungan sekolah ada kamera pengintai atau Closed Circuit Television (CCTV) sehingga semua pihak yang
berkepentingan dengan kemajuan pendidikan bisa mengakses dan mengawasi kegiatan
pembelajaran. Sehingga kegiatan guru di kelas bisa dengan mudah dipantau untuk
dievaluasi agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Merawat kemerdekaan dengan pendidikan juga mengharuskan agar dalam proses
pembelajaran di kelas diajarkan semangat keberanian yang telah dicontohkan oleh
para pejuang kemerdekaan. Dengan keberaniannya telah membuat pemuda dari
berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk mengikrarkan sumpah pemuda pada 28 Oktober
1928. Bung Karno dengan keberaniannya telah memproklamasikan kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945 ketika Jepang baru saja menyerah tanpa syarat
terhadap sekutu. Keberanian telah membuat bung Tomo berhasil memukul mundur
kembalinya tentara NICA pasukan penjajah Belanda pada 10 November 1945.
Keberanian juga yang telah menjadikan Mesir sebagai negara pertama yang
mengakui kemerdekaan Indonesia. Adanya kemerdekaan telah membebaskan rakyat
Indonesia untuk menempuh pendidikan dan meraih cita-cita untuk kemajuan bangsa.
Dengan adanya pendidikan inilah bangsa Indonesia bisa sadar akan sulitnya
kondisi terjajah. 350 tahun dalam cengkeraman Belanda dan 3,5 tahun dalam
belenggu penjajahan Jepang merupakan waktu yang sangat panjang bagi bangsa
Indonesia dalam kondisi keterpurukan. Pendidikan sudah dikenal di Indonesia
pada masa penjajahan yang berkembang luas dikalangan ulama Indonesia sehingga
mulai dibentuknya beberapa organisasi kepemudaan di berbagai daerah di
Indonesia. Di Sumatera Barat seperti didirikannya INS Kayu Tanam oleh Mohammad
Syafei.
Dalam
praktik pendidikan, maka kemerdekaan harus dirasakan dalam seluruh proses
pembelajaran dan interaksi dengan semua warga sekolah. Para pelajar harus mampu
mentransformasikan diri menjadi manusia yang bebas atau merdeka. Karena
institusi pendidikan di lingkungannya
memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk membangun kesadaran dan
mengembangkan spirit kemerdekaan. Kebiasaan yang bebas dan merdeka ini juga
bisa direalisasikannya secara nyata di lingkungannya. Merdeka itu ketika rakyat
Indonesia bisa dengan leluasa menikmati segala hasil kemerdekaan dengan
nasionalisme. Ketika sumber daya alam milik negara bisa mensejahterakan seluruh
rakyat Indonesia. Kemerdekaan mengajarkan kita bebas dari segala belenggu
keterpurukan. Kemerdekaan menentukan cara kita bertindak, bukan orang lain.
Menjadikan kita bebas menentukan dan mengatur hidup kita sendiri. Karena
kitalah yang menentukan masa depan sendiri. Kemerdekaan mengajarkan kita
bertindak sesuai hati nurani, membalas keburukan dengan kebaikan. Kemerdekaan
mengajarkan untuk tidak membiarkan seseorang mempengaruhi sikap baik kita.
Kemerdekaan menjadikan sikap pemurah kita tetap berlaku meskipun menghadapi
orang yang pelit. Kemerdekaan menjadikan kita berpikir bahwa tidak ada yang
bisa mempengaruhi tindakan kita. Kemerdekaan tidak perlu menunggu seseorang
berbuat baik agar diperlakuakan baik. Kemerdekaan memjadikan suasana hati tetap
terjaga, tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhi suasana hati, sehingga
membebaskan hati dari segala pikiran negatif. Pemenang kehidupan adalah orang
yang merdeka dengan tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, tetap sejuk
ditempat yang panas, tetap manis ditempat yang pahit, tetap tenang meski
ditengah badai. Merdeka itu berpikir berani dan mengambil keputusan. Orang yang
plin plan berarti belum merdeka. Semua kemerdekaan itu hanya bisa diperoleh
dengan pendidikan. Marilah berpendidikan untuk bisa merawat kemerdekaan. Selamat
hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-70, Jayalah Negeriku, Majulah bangsaku !! (dimuat di Tabloid Wahana Media, 31Agustus 2015)
artikel dimuat di Tabloid Penuntun Amal Bhakti Kemenag Sumbar edisi Oktober 2015
PERGANTIAN
TAHUN BARU ISLAM 1437 H, PERUBAHAN WAKTU
MOMENTUM MENAKLUKKAN ATAU DITAKLUKKAN?
Oleh: Afrina Letti, S.PdI,MA
Guru PAI SMA Negeri Unggul
Dharmasraya
Waktu merupakan sesuatu yang akan
dilalui oleh semua orang dengan kuantitas yang sama, 24 jam sehari, namun tidak
semua orang bisa memanfaatkan dan menjadikan waktunya berkualitas. Akan terjadi
perbedaan orientasi dalam membaca waktu antara manusia yang satu dengan yang
lainnya. Dalam qs. Al-‘Ashr:1-3 Allah swt berfirman, yang artinya “1)Demi masa, 2) Sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian, 3)kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan
nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Dalam ayat tersebut Allah swt
bersumpah demi masa (waktu), hal ini mengindikasikan betapa pentingnya waktu
bagi manusia supaya tidak termsuk dalam golongan orang yang merugi.
Setiap satuan waktu memiliki
ibrahnya sendiri, tergantung seperti apa kita memaknainya. Para ulama
mengatakan bahwa “al waqtu huwa al hayah”
(waktu adalah kehidupan). Mereka memaknainya sebagai sarana untuk mengabdi
pada Allah swt. Imam Syafi’i seorang ulama besar Islam yang baru berusia 50
tahun ketika wafatnya, namun telah meninggalkan ilmu ushul fiqh yang membantu
semua generasi memahami kitab dan sunnah.
Beliau merupakan salah seorang hamba Allah yang memperoleh keberkahan
waktu dalam hidupnya. Beliau mengatakan “jika engkau tidak menyibukkan dirimu
dengan kebenaran, maka engkau akan disibukkan dengan kebathilan”. Menyikapi hal
ini dimanakah posisi diri? Termasuk orang yang sibuk dengan kebenaran ataukah
kebathilan?
Setiap satuan waktu memiliki
momentumnya sendiri, tergantung seperti apa kita memanfaatkannya. Sekarang
sudah diakhir 1436 H dan sebentar lagi waktu akan berganti menjadi 1437 H. Jika
dibawa merenung sejenak, ternyata setiap makhluk Allah diberikan waktu yang
sama dan terangkai indah dalam detik, menit, jam yang berubah menjadi kumpulan
hari-hari, ketika berganti hari berganti menjadi minggu, minggu menjadi bulan
dan bulan menjadi tahun yang terus berlalu, maka semakin berkurang pula jatah
hidup di dunia ini.
Mengingat saat ini sebentar lagi waktunya
pergantian tahun baru Islam, ini berarti menapak tilasi awal perpindahan/ Hijrahnya
Rasulullah dan kaum muslimin dari Mekah ke Yastrib (Madinah) yag merupakan momentum
awal dari perkembangan dakwah Rasulullah saw. Peristiwa hijrah telah mengakhiri periode dakwah di Mekah dan mengawali
periode Madinah sebagai titik
balik kehidupan Rasulullah saw. Perkembangan Islam yang sangat terbatas di Mekkah menjadi
luar biasa ketika Rasulullah hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama
Yastrib.
Peristiwa hijrah berawal dari
datangnya beberapa orang Yastrib (Madinah) pada tahun 620 M yang kebanyakan
berasal dari suku Khazraj, menemui nabi Muhammad pada festival Ukaz dan merasa
terkesan pada setiap perkataannya. Dua tahun kemudian, utusan yang berjumlah 75
orang mengundang Rasulullah untuk tinggal di Yastrib (Madinah) dengan harapan
ia dapat mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan. Di Madinah,
orang Yahudi sedang menantikan juru selamat, nyata-nyata telah mendorong rekan
sebangsa yang masih kafir untuk berpihak pada orang yang mengaku sebagai nabi
seperti Muhammad. Setelah gagal dalam dakwahnya di Taif, Muhammad mengizinkan
200 orang pengikutnya untuk menghindari kekejaman Quraisy dan pergi diam-diam
ke Madinah. Muhammad sendiri menyusul bersama Abu Bakar dan tiba disana pada 24
september 622 M.
Berkaca dari perjuangan Rasulullah
dan kaum muslimin di masa Hijrah, ternyata perjalanan hijrah bukanlah sebuah
pelarian semata dari kekejaman kafir Quraisy, namun perjalanan yang sudah
direncanakan semenjak dua tahun sebelumnya. Hal ini merupakan waktu yang cukup
panjang untuk memikirkan segala resiko yang akan dihadapi dalam hijrahnya. Maka
analoginya, aktivitas segunung yang dilakukan sekarang tidak menjadi jaminan
kesuksesan usaha yang dilakukan. Banyaknya kegiatan dari bangun tidur sampai
tidur kembali, bahkan ada yang saking sibuknya sampai tidak memiliki waktu untuk
beribadah dan untuk keluarga. Pergi pagi pulang larut malam untuk mencari
nafkah untuk kehidupan dunia bukanlah jaminan kebahagian dan kesuksesan usaha
yang dilakukan. Tapi perlu merenung untuk berpikir sejenak, perlu planning yang matang sebelum bertindak akan
menentukan kesuksesan setiap aktivitas yang dilakukan. Dalam pepatah dikatakan “if false to plan, you plan to false/
jika kamu gagal merencanakan, berarti kamu merencanakan kegagalan”.
Maka pantaslah ketika Rasullah kembali
ke Mekkah setelah 10 tahun hijrah, beliau di sambut baik oleh kaum Muslimin karena
kesuksesan dakwah beliau sebagaimana firman Allah swt dalam qs. An-Nashr ayat
1-3; 1) Apabila telah datang pertolongan
Allah dan kemenangan, 2) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. Saat ini sudah 1437 tahun semenjak
peristiwa hijrahnya Rasulullah. Suatu rentang waktu yang sangat lama, banyak
generasi yang hidup dan telah berganti pada rentang waktu ini. Saat ini Islam
sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, populasi muslim
merupakan jumlah penduduk terbesar, namun dari segi pemanfaatan waktu sesuai
tuntunan Islam, mungkin umat Islam masih perlu kembali mencontoh efektivitas
waktu sebagaimana yang telah dipraktekkan umat lain karena sudah merealisasikan
apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi awal Islam. Karena dalam
faktanya saat ini justru umat Islam masih tertinggal jauh dari agama lain. Banyak
yang mengaku Islam namun tidak mau mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang
telah dilakukan Rasulullah saw.
Ketika penghujung tahun ini maka saatnya
untuk berpikir jernih, mengambil ibrah setiap aktivitas, saatnya berbagi manfaat.
Umat Islam pada ini perlu belajar kembali agar bisa menaklukkan waktu dan
mengamalkan sifat keteladanan Rasulullah:
1.
Siddiq (benar/ truthful,
correct)
Umat Islam harus benar dalam ucapan maupun perbuatan.
2.
Amanah (terpercaya/
accountable)
Umat Islam harus bisa dipercaya, harus mampu menjaga
kepercayaan terhadap segala kewajiban yang ada dipundaknya.
3.
Fathanah (cerdas/
knowledgable, smart)
Umat Islam harus cerdas/ pintar, makanya mesti senatiasa
belajar dan menambah ilmu pengetahuan karena Allah akan meningggikan derajat
orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam pepatah minangkabau dikatakan
“alam takambang jadi guru”, hal ini berarti belajar tidak hanya dilakukan sekolah namun bisa dari buku dan dari alam
sekitar.
4.
Tabligh (menyampaikan/
communicative, personable)
Umat Islam harus mau membagikan/ menyampaikan ilmu yang
dimiliki pada yang lain, hal ini akan menambah berkahnya ilmu, ibarat air dalam
bak yang selalu diisi namun tidak pernah diganti atau tidak dibiarkan mengalir
akan menjadi keruh, sangat berbeda dengan air sungai yang selalu mengalir
sehingga bersih dan termasuk kategori suci jika digunakan untuk berwudhu’
(kecuali jika air sungai sudar tercemar karena ilegal mining).
Jadi menghadapi momentum pergantian
waktu dipenghujung tahun 1436 H ini merupakan saat yang tepat untuk menjadi
pribadi yang lebih baik untuk kemaslahatan umat. Karena jika hidup sudah tidak
bisa berbagi bijak, bagimana jika badan sudah menjadi tanah. Selagi masih ada
waktu, kesempatan terbentang luas, hanya ada dua pilihan menghadapi waktu:
menaklukkan atau ditaklukkan?”. (arikel yg dimuat di tabloid PAB Kemenag Sumbar)
Subscribe to:
Posts (Atom)