Sunday, 6 December 2015

artikel di Tabloid Wahana Media 31 Agustus 2014

ZAMAN GLOBALISASI, MASIHKAH DIBUTUHKAN GURU?
Oleh: Afrina Letti
Pemerhati Pendidikan dari Koto Baru, Kab. Dharmasraya

Globalisasi adalah Suatu proses dimana antar individu , antar kelompok dan antar negara berinteraksi , bergantung , terkait dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara dalam banyak hal. Globalisasi  merupakan peningkatan saling ketergantungan antar negara di dunia, bahwa tidak ada negara yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan negara lain.
Seorang guru merupakan orang yang berpengetahuan luas, memiliki cahaya yang menerangi kehidupan manusia, musuh kebodohan dan pengganti kejahiliyahan. Seorang guru tidak hanya mencerdaskan akal dengan berbagai ilmu pengetahuan, namun juga mencerahkan akhlak dengan tingkah lakunya sehingga pantas disebut sebagai guru, orang yang akan digugu dan ditiru. Seorang guru ibarat juga ibarat nakhoda kapal yang sangat piawai menyetir kemudi kapal dan mengantarkan semua penumpang ke pulau impian. Guru bagaikan mercusuar yang memberikan arah di malam hari, bagai pelita yang akan menerangi dikegelapan.
            Guru adalah roh dari proses pendidikan, yang merupakan elemen utama dalam sistem pendidikan. Guru merupakan individu yang selalu dibutuhkan meskipun teori-teori modern telah ditemukan dan banyak media baik cetak maupun elektronik yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Guru adalah orang yang selalu dekat dengan keutamaan yang memberikan suri teladan, menasehati orang lain dengan kebaikan dan hikmah.  Karena jika ilmu yang diperoleh tidak dimanfaatkan dengan baik akan bisa menjadi laknat atau mudharat, sedangkan hikmah akan selalu memberikan kebaikan dan kemanfaatan. Sedangkan perangkat tekhnologi lain hanya sebagai alat pelengkap dari sumber ilmu karena tidak merasa, tidak berpikir, tidak menghargai dan masih membutuhkan penjelasan.
            Seorang guru profesional harus merasa dirinya penerus risalah Rasullah dengan melaksanakan urgensinya untuk melanjutkan tugas rasul sebagai khalifah Allah dan penyampai risalah dimuka bumi. Kemuliaan seorang guru disebabkan oleh tugas-tuganya yang mulia, pandangan yang luas tentang ilmu yang diberikannya, pembelaannya terhadap kebenaran, seruannya untuk menjaga kesucian hati dan jiwa serta menjaga dan membela misi pendidikan. Guru yang akan menyebabkan kesuksesan masyarakat sehingga bisa memberikan kemajuan pada kehidupan masyarakat. Gurulah ujung tonggak penyebab kemenangan maupun kekalahan umat dalam pertempuran. Penentu maju mundurnya pendidikan di dunia ini. Generasi masa depan negara berada di hadapan guru. Meskipun saat ini otonomi daerah sedang berjalan namun untuk pendidikan masih harus dipandang secara global, sehingga kualitas pendidikan suatu daerah harus sebanding dengan daerah lain di Indonesia.
            Oleh karenanya guru yang tugas utamanya mendidik dan membina merupakan profesi yang harus dipersiapkan terlebih dahulu dengan persiapan khusus. Karena pendidikan berhubungan dengan manusia, yang akan mencetak kepribadian manusia sehingga digunakan seumur hidupnya bahkan diwariskan pada generasi sesudahnya. Guru merupakan sumber informasi utama bagi siswanya. Oleh karena itu seorang guru disamping menguasai bidang ilmu yang akan diajarkannya juga mesti  memahami dan mendalami budaya masyarakat dimana dia melaksanakan tugasnya.  Sehingga akhirnya dia mampu menyiapkan generasi berilmu dan masyarakat yang berakhlak mulia. Apapun bidang studi yang diajarkannya, seorang guru tetap harus menjadikan dirinya layak untuk disebut guru yang akan digugu dan ditiru oleh sekelilingnya.
Jadi seiring majunya ilmu pengetahuan dan tekhnologi maka guru juga harus semakin menambah pengetahuannya agar perannya tidak tergantikan oleh tekhnologi. Hal ini sangat sesuai dengan fiman Allah dalam surat an-Nahl ayat 125 yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.  Maka sudah menjadi keharusan bagi para guru agar senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuannya dengan terus belajar. Belajar tidak harus di lembaga pendidikan formal, tapi bisa juga dari alam. Dalam falsafah adat minangkabau kita mengenal “alam takambang jadi guru”. Oleh karena itu para guru jangan pernah merasa bosan untuk belajar meningkatkan ilmu pengetahuannya.

            Jika siswanya sudah menguasai tekhnologi komunikasi yang canggih dengan menggunakan berbagai jenis smart phone, maka seorang guru juga harus melek tekhnologi jika ingin tetap eksis dimata siswanya. Jangan lagi ada guru yang gaptek (gagap tekhnologi) dan tidak tahu cara menggunakan internet. Sudah menjadi keharusan bagi seorang guru untuk lebih update dari siswanya jika ingin menjadi idola bagi siswanya. Guru harus menyadari bahwa mereka mempersiapkan siswa untuk masa yang akan datang yang sudah sangat jauh berbeda dengan masa yang di hadapinya sekarang. Sehingga bekal ilmu yang harus diberikan pada siswanya juga sangat berbeda dengan apa yang telah diterimanya dahulu.

artikel di Tabloid Wahana Media Edisi 31 Agustus 2015

PENDIDIKAN MERAWAT KEMERDEKAAN
Oleh: Afrina Letti, S.PdI,MA
Guru SMA Negeri Unggul Dharmasraya (Boarding School)


          Kemerdekaan yang telah diraih bangsa Indonesia selama 70 tahun ini merupakan rahmat Allah SWT. Ini merupakan nikmat yang hakiki, dengan kemerdekaan telah membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan dan penghambaan pada manusia. Sebagai wujud syukur atas nikmat Allah SWT yang bernama kemerdekaan ini, maka harus diisi dengan pembangunan di segala bidang yang sesuai dengan nilai-nilai yang diridhoi-NYA.
Merawat kemerdekaan merupakan sesuatu yang harus dilakukan agar kemerdekaan itu bisa tetap dirasakan oleh semua rakyat Indonesia. Ibarat bunga yang indah dan baru dibeli kemudian ditanam dalam pot yang bagus, tidak akan memberikan hasil yang bagus tanpa dirawat, begitu juga dengan kemerdekaan yang telah diraih dengan perjuangan dan pertumpahan darah pahlawan bangsa, maka generasi sekarang harus senantiasa merawatnya, salah satu caranya adalah melalui pendidikan. Karena pendidikan merupakan elemen penentu kemajuan suatu bangsa. Dengan adanya pendidikan, rakyat Indonesia bisa hidup sejajar dengan warga negara lainnya di dunia. Namun, di 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini, pendidikan belum optimal dalam merawat kemerdekaan karena pembangunan di bidang pendidikan belum dirasakan secara menyeluruh oleh rakyat Indonesia. Peggunaan 20% dana APBN untuk pendidikan lebih banyak digunakan untuk infrastrukur atau fisik seperti pembangunan gedung sekolah, namun untuk pembangunan psikis seperti pengadaan buku, pelatihan dan sarana membangun mental lainnya belum begitu terasa. Mahalnya biaya pendidikan dan kurangnya sarana dan prasarana pendidikan di daerah, terutama di daerah 3 T (terluar, terpencil dan terdalam) juga merupakan masalah pendidikan yang masih kontiniu hingga saat ini.
          Pendidikan di 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini sepertinya berbanding terbalik dengan pendidikan di Jepang yang mengalami masa rekonstruksi pasca bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki yang waktunya hampir sama dengan kemerdekaan Indonesia yaitu sama-sama terjadi pada bulan Agustus 1945. Karena hal pertama yang ditanyakan kaisar Jepang pasca bom adalah guru yang akan membangun negaranya dari segi pendidikan, bukan arsitek untuk membangun fisik, bukan juga dokter untuk mengobati pasca bencana. Hasilnya yang luar biasa terlihat saat ini Jepang telah mengalami kemajuan yang pesat dan mereka bisa tampil sebagai ikon negara maju karena usaha keras para gurunya. Namun sangat disayangkan hingga saat ini, negara tercinta Indonesia ini masih jauh tertinggal dalam bidang pendidikan.

Pembina Insan Cendekia
          Berhasil tidaknya pendidikan  disuatu negara tidak terlepas dari peran besar seorang guru. Dari tangan-tangan guru lah lahirnya insan cendekia sebagai generasi penerus estafet perjuangan bangsa. Maju mundurnya pendidikan salah satu penyebabnya juga guru. Walaupun pada kenyataannya, jika pendidikan berkualitas dan siswa tampil sebagai juara, maka orang akan bertanya siapa orang tuanya. Namun, jika seorang siswa berakhlak yang tidak baik atau tinggal kelas, maka semua orang akan bertanya siapa gurunya dan dimana sekolahnya.
Seorang guru adalah pahlawan pembina insan cendekia seperti bait terakhir Hymne guru. Butuh berbagai tekhnik dan kesabaran ekstra bagi seorang guru agar bisa membina siswa menjadi insan cendekia. Sebagaimana tujuan pendidikan nasional Indonesia menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 berbunyi “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Maka disini sangat besar peran guru untuk membina dan mengarahkan peserta didiknya agar sesuai dengan tujua pendidikan nasional. Mencontoh dari apa yang telah diajarkan Rasulullah saw, maka keteladanan merupakan hal utama yang harus ada pada seorang guru.
          Dengan adanya keteladanan, maka tanggung jawab besar dan resiko yang besar dalam usaha merawat kemerdekaan akan terasa kecil. Sangat diperlukan keikhlasan dan kesabaran dari seorang guru. Dalam setiap tingkah laku dan sikapnya haruslah bisa untuk di gugu dan di tiru karena seorang guru akan menjadi garda depan dalam pembangunan manusia bidang pendidikan. Guru harus tetap berpikir apa yang akan diberikannya pada negara ini untuk mencerdaskan warga negaranya. Karena nasib guru sudah dipikirkan oleh pemrintah, meski saat ini tidak semua guru yang sudah menikmati penghidupan yang layak dengan adanya sertifikasi guru. Dalam melaksanakan tanggung jawab sebagai pendidik di sekolah maka semua guru akan menjadi panutan bagi siswanya. Oleh karena itu, segala tingkah laku dan tindak tanduknya harus menjadi pantas disebut sebagai guru. Begitu juga dalam penyampaian materi pembelajaran di kelas, seorang guru harus menguasai materi yang diajarkannya lengkap dengan berbagai metode dan media yang mendukung keaktifan siswa. Guru harus senantiasa menambah wawasan keilmuannya agar apa yang disampaikannya di kelas sesuai dengan kondisi terkini. Karena jika guru hanya mengandalkan ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah sudah tidak relevan lagi dengan kondisi sekarang.

Ingin lebih merdeka
Pada peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini, kemerdekaan finansial sudah dirasakan oleh sebagian guru yang sudah bersertifikat profesional. Dengan sertifikat tersebut maka profesi guru sudah sejajar dengan profesi lainnya seperti pengacara, dokter, dll. Namun dengan adanya tunjangan sertifikasi tersebut, muncul lagi belenggu baru yang menghambat kemerdekaan seorang guru terutama dengan adanya kewajiban untuk mengajar minimal 24 jam per minggu dengan jumlah siswa per kelas minimal 20 siswa untuk tingkat SMP/ SMA sehingga menyebabkan guru mengajar di lebih dari 1 sekolah karena kekurangan jumlah siswa atau kekurangan jam mengajar.
Permasalahan lain yang menghambat kemerdekaan guru di kelas adalah karena masih adanya dibeberapa sekolah yang sangat besar campur tangan orang tua terhadap pembelajaran di sekolah, terutama bagi sekolah yang didomiasi oleh anak pejabat di daerah. Harusnya pada 70 tahun kemerdekaan Indonesia ini, negara sudah terbebas dari dikotomi pendidikan. Penegasan Menteri pendidikan Dasar dan Menengah, bapak Anies Baswedan tentang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) hanyalah untuk pemetaan pendidikan harusnya menjadi perhatian bagi semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan. Sehingga nilai-nilai kejujuran yang diajarkan guru di kelas tetap terlaksana meski UN karena sekolah tidak perlu lagi disibukkan untuk memikirkan agar siswa lulus  UN 100%. Seharusnya, jika pemerintah ingin memajukan sektor pendidikan, bukan dilihat dari peringkat UN, tapi lihatlah dari kemampuan siswanya bisa diterima diperguruan tinggi favorit baik di dalam maupun diluar negeri dan bagaimana hasilnya ketika siswanya nanti terjun di dunia kerja. Untuk apa lulus UN 100% jika harus menggadaikan kejujuran.
Alangkah baiknya jika disetiap kelas dan seluruh lingkungan sekolah ada kamera pengintai atau Closed Circuit Television (CCTV) sehingga semua pihak yang berkepentingan dengan kemajuan pendidikan bisa mengakses dan mengawasi kegiatan pembelajaran. Sehingga kegiatan guru di kelas bisa dengan mudah dipantau untuk dievaluasi agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Merawat kemerdekaan dengan  pendidikan juga mengharuskan agar dalam proses pembelajaran di kelas diajarkan semangat keberanian yang telah dicontohkan oleh para pejuang kemerdekaan. Dengan keberaniannya telah membuat pemuda dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk  mengikrarkan sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Bung Karno dengan keberaniannya telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 ketika Jepang baru saja menyerah tanpa syarat terhadap sekutu. Keberanian telah membuat bung Tomo berhasil memukul mundur kembalinya tentara NICA pasukan penjajah Belanda pada 10 November 1945. Keberanian juga yang telah menjadikan Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Adanya kemerdekaan telah membebaskan rakyat Indonesia untuk menempuh pendidikan dan meraih cita-cita untuk kemajuan bangsa. Dengan adanya pendidikan inilah bangsa Indonesia bisa sadar akan sulitnya kondisi terjajah. 350 tahun dalam cengkeraman Belanda dan 3,5 tahun dalam belenggu penjajahan Jepang merupakan waktu yang sangat panjang bagi bangsa Indonesia dalam kondisi keterpurukan. Pendidikan sudah dikenal di Indonesia pada masa penjajahan yang berkembang luas dikalangan ulama Indonesia sehingga mulai dibentuknya beberapa organisasi kepemudaan di berbagai daerah di Indonesia. Di Sumatera Barat seperti didirikannya INS Kayu Tanam oleh Mohammad Syafei.
          Dalam praktik pendidikan, maka kemerdekaan harus dirasakan dalam seluruh proses pembelajaran dan interaksi dengan semua warga sekolah. Para pelajar harus mampu mentransformasikan diri menjadi manusia yang bebas atau merdeka. Karena institusi  pendidikan di lingkungannya memberikan ruang dan kesempatan bagi mereka untuk membangun kesadaran dan mengembangkan spirit kemerdekaan. Kebiasaan yang bebas dan merdeka ini juga bisa direalisasikannya secara nyata di lingkungannya. Merdeka itu ketika rakyat Indonesia bisa dengan leluasa menikmati segala hasil kemerdekaan dengan nasionalisme. Ketika sumber daya alam milik negara bisa mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan mengajarkan kita bebas dari segala belenggu keterpurukan. Kemerdekaan menentukan cara kita bertindak, bukan orang lain. Menjadikan kita bebas menentukan dan mengatur hidup kita sendiri. Karena kitalah yang menentukan masa depan sendiri. Kemerdekaan mengajarkan kita bertindak sesuai hati nurani, membalas keburukan dengan kebaikan. Kemerdekaan mengajarkan untuk tidak membiarkan seseorang mempengaruhi sikap baik kita. Kemerdekaan menjadikan sikap pemurah kita tetap berlaku meskipun menghadapi orang yang pelit. Kemerdekaan menjadikan kita berpikir bahwa tidak ada yang bisa mempengaruhi tindakan kita. Kemerdekaan tidak perlu menunggu seseorang berbuat baik agar diperlakuakan baik. Kemerdekaan memjadikan suasana hati tetap terjaga, tidak ada seorangpun yang bisa mempengaruhi suasana hati, sehingga membebaskan hati dari segala pikiran negatif. Pemenang kehidupan adalah orang yang merdeka dengan tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, tetap sejuk ditempat yang panas, tetap manis ditempat yang pahit, tetap tenang meski ditengah badai. Merdeka itu berpikir berani dan mengambil keputusan. Orang yang plin plan berarti belum merdeka. Semua kemerdekaan itu hanya bisa diperoleh dengan pendidikan. Marilah berpendidikan untuk bisa merawat kemerdekaan. Selamat hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-70, Jayalah Negeriku, Majulah bangsaku !! (dimuat di Tabloid Wahana Media, 31Agustus 2015)




artikel dimuat di Tabloid Penuntun Amal Bhakti Kemenag Sumbar edisi Oktober 2015

PERGANTIAN TAHUN BARU ISLAM 1437 H, PERUBAHAN WAKTU
MOMENTUM MENAKLUKKAN ATAU DITAKLUKKAN?
Oleh: Afrina Letti, S.PdI,MA
Guru PAI SMA Negeri Unggul Dharmasraya

Waktu merupakan sesuatu yang akan dilalui oleh semua orang dengan kuantitas yang sama, 24 jam sehari, namun tidak semua orang bisa memanfaatkan dan menjadikan waktunya berkualitas. Akan terjadi perbedaan orientasi dalam membaca waktu antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Dalam qs. Al-‘Ashr:1-3 Allah swt berfirman, yang artinya “1)Demi masa, 2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, 3)kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Dalam ayat tersebut Allah swt bersumpah demi masa (waktu), hal ini mengindikasikan betapa pentingnya waktu bagi manusia supaya tidak termsuk dalam golongan orang yang merugi.
Setiap satuan waktu memiliki ibrahnya sendiri, tergantung seperti apa kita memaknainya. Para ulama mengatakan bahwa “al waqtu huwa al hayah” (waktu adalah kehidupan). Mereka memaknainya sebagai sarana untuk mengabdi pada Allah swt. Imam Syafi’i seorang ulama besar Islam yang baru berusia 50 tahun ketika wafatnya, namun telah meninggalkan ilmu ushul fiqh yang membantu semua generasi memahami kitab dan sunnah.  Beliau merupakan salah seorang hamba Allah yang memperoleh keberkahan waktu dalam hidupnya. Beliau mengatakan “jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebenaran, maka engkau akan disibukkan dengan kebathilan”. Menyikapi hal ini dimanakah posisi diri? Termasuk orang yang sibuk dengan kebenaran ataukah kebathilan?
Setiap satuan waktu memiliki momentumnya sendiri, tergantung seperti apa kita memanfaatkannya. Sekarang sudah diakhir 1436 H dan sebentar lagi waktu akan berganti menjadi 1437 H. Jika dibawa merenung sejenak, ternyata setiap makhluk Allah diberikan waktu yang sama dan terangkai indah dalam detik, menit, jam yang berubah menjadi kumpulan hari-hari, ketika berganti hari berganti menjadi minggu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun yang terus berlalu, maka semakin berkurang pula jatah hidup di dunia ini.
Mengingat saat ini sebentar lagi waktunya pergantian tahun baru Islam, ini berarti menapak tilasi awal perpindahan/ Hijrahnya Rasulullah dan kaum muslimin dari Mekah ke Yastrib (Madinah) yag merupakan momentum awal dari perkembangan dakwah Rasulullah saw. Peristiwa hijrah telah mengakhiri periode dakwah di Mekah dan mengawali periode Madinah sebagai titik balik kehidupan Rasulullah saw. Perkembangan Islam yang sangat terbatas di Mekkah menjadi luar biasa ketika Rasulullah hijrah ke Madinah yang saat itu masih bernama Yastrib.
Peristiwa hijrah berawal dari datangnya beberapa orang Yastrib (Madinah) pada tahun 620 M yang kebanyakan berasal dari suku Khazraj, menemui nabi Muhammad pada festival Ukaz dan merasa terkesan pada setiap perkataannya. Dua tahun kemudian, utusan yang berjumlah 75 orang mengundang Rasulullah untuk tinggal di Yastrib (Madinah) dengan harapan ia dapat mendamaikan suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan. Di Madinah, orang Yahudi sedang menantikan juru selamat, nyata-nyata telah mendorong rekan sebangsa yang masih kafir untuk berpihak pada orang yang mengaku sebagai nabi seperti Muhammad. Setelah gagal dalam dakwahnya di Taif, Muhammad mengizinkan 200 orang pengikutnya untuk menghindari kekejaman Quraisy dan pergi diam-diam ke Madinah. Muhammad sendiri menyusul bersama Abu Bakar dan tiba disana pada 24 september 622 M.
Berkaca dari perjuangan Rasulullah dan kaum muslimin di masa Hijrah, ternyata perjalanan hijrah bukanlah sebuah pelarian semata dari kekejaman kafir Quraisy, namun perjalanan yang sudah direncanakan semenjak dua tahun sebelumnya. Hal ini merupakan waktu yang cukup panjang untuk memikirkan segala resiko yang akan dihadapi dalam hijrahnya. Maka analoginya, aktivitas segunung yang dilakukan sekarang tidak menjadi jaminan kesuksesan usaha yang dilakukan. Banyaknya kegiatan dari bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan ada yang saking sibuknya sampai tidak memiliki waktu untuk beribadah dan untuk keluarga. Pergi pagi pulang larut malam untuk mencari nafkah untuk kehidupan dunia bukanlah jaminan kebahagian dan kesuksesan usaha yang dilakukan. Tapi perlu merenung untuk berpikir sejenak, perlu planning yang matang sebelum bertindak akan menentukan kesuksesan setiap aktivitas yang dilakukan. Dalam pepatah dikatakan “if false to plan, you plan to false/ jika kamu gagal merencanakan, berarti kamu merencanakan kegagalan”.
Maka pantaslah ketika Rasullah kembali ke Mekkah setelah 10 tahun hijrah, beliau di sambut baik oleh kaum Muslimin karena kesuksesan dakwah beliau sebagaimana firman Allah swt dalam qs. An-Nashr ayat 1-3; 1) Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2) Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3) maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. Saat ini sudah 1437 tahun semenjak peristiwa hijrahnya Rasulullah. Suatu rentang waktu yang sangat lama, banyak generasi yang hidup dan telah berganti pada rentang waktu ini. Saat ini Islam sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, populasi muslim merupakan jumlah penduduk terbesar, namun dari segi pemanfaatan waktu sesuai tuntunan Islam, mungkin umat Islam masih perlu kembali mencontoh efektivitas waktu sebagaimana yang telah dipraktekkan umat lain karena sudah merealisasikan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dan generasi awal Islam. Karena dalam faktanya saat ini justru umat Islam masih tertinggal jauh dari agama lain. Banyak yang mengaku Islam namun tidak mau mengamalkan ajaran Islam sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah saw.
Ketika penghujung tahun ini maka saatnya untuk berpikir jernih, mengambil ibrah setiap aktivitas, saatnya berbagi manfaat. Umat Islam pada ini perlu belajar kembali agar bisa menaklukkan waktu dan mengamalkan sifat keteladanan Rasulullah:
1.  Siddiq (benar/ truthful, correct)
Umat Islam harus benar dalam ucapan maupun perbuatan.
2.  Amanah (terpercaya/ accountable)
Umat Islam harus bisa dipercaya, harus mampu menjaga kepercayaan terhadap segala kewajiban yang ada dipundaknya.
3.  Fathanah (cerdas/ knowledgable, smart)
Umat Islam harus cerdas/ pintar, makanya mesti senatiasa belajar dan menambah ilmu pengetahuan karena Allah akan meningggikan derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Dalam pepatah minangkabau dikatakan “alam takambang jadi guru”, hal ini berarti belajar tidak hanya dilakukan  sekolah namun bisa dari buku dan dari alam sekitar.
4.  Tabligh (menyampaikan/ communicative, personable)
Umat Islam harus mau membagikan/ menyampaikan ilmu yang dimiliki pada yang lain, hal ini akan menambah berkahnya ilmu, ibarat air dalam bak yang selalu diisi namun tidak pernah diganti atau tidak dibiarkan mengalir akan menjadi keruh, sangat berbeda dengan air sungai yang selalu mengalir sehingga bersih dan termasuk kategori suci jika digunakan untuk berwudhu’ (kecuali jika air sungai sudar tercemar karena ilegal mining).
Jadi menghadapi momentum pergantian waktu dipenghujung tahun 1436 H ini merupakan saat yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik untuk kemaslahatan umat. Karena jika hidup sudah tidak bisa berbagi bijak, bagimana jika badan sudah menjadi tanah. Selagi masih ada waktu, kesempatan terbentang luas, hanya ada dua pilihan menghadapi waktu: menaklukkan atau ditaklukkan?”. (arikel yg dimuat di tabloid PAB Kemenag Sumbar)